Berita Pendidikan

Geliat Perfilman Nasional: Open Call BMK Kemendikbudristek Dorong Kreativitas Sineas

Balai Media Kebudayaan (BMK) di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengguncang dunia perfilman Indonesia dengan menggelar tiga program unggulan sekaligus. Open Call Layar Cerita Perempuan Indonesiana (LCPI), Layar Animasi Anak Indonesiana (LAAI), dan Layar Anak Indonesiana (LAI) menjadi panggung bagi para kreator lokal untuk menyuarakan ide-ide segar mereka.

 

Pada tahun 2022, BMK Kemendikbudristek memperkenalkan program Open Call Indonesiana.TV, yang kini ditambahkan dengan program LAAI. Dalam era ini, BMK mengajak sineas tanah air untuk mengirimkan proposal produksi film LCPI, LAAI, dan LAI, membuka pintu bagi inovasi dalam dunia perfilman Indonesia.

 

Kepala BMK Kemendikbudristek, Retno Raswaty, menyatakan bahwa tujuan dari Open Call LAAI dan LAI adalah untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional, sambil memberikan kontribusi berupa konten kebudayaan yang mendidik karakter, nilai budaya, dan kearifan lokal bagi anak-anak. Open Call LCPI, di sisi lain, bukan hanya untuk penguatan ekosistem perfilman, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi kepada perempuan Indonesia yang melestarikan seni budaya, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional di tengah perubahan iklim.

 

“Film hasil produksi dari Open Call LCPI, LAAI, dan LAI nantinya akan ditayangkan di Indonesiana.TV serta mitra siar lainnya yang bekerja sama dengan Kemendikbudristek,” ungkap Retno.

 

Gempuran informasi dan perkembangan teknologi yang pesat turut mempengaruhi cara anak-anak Indonesia mengonsumsi tayangan melalui gawai. Oleh karena itu, BMK Kemendikbudristek menekankan pentingnya menyajikan konten-konten yang mempromosikan budi pekerti, hiburan sehat, apresiasi seni, estetika, dan membangkitkan rasa ingin tahu terhadap lingkungan dan budaya lokal.

 

Dalam pengembangan LCPI, BMK Kemendikbudristek bertekad untuk mengangkat beragam kisah perempuan dari seluruh Indonesia dengan keunikan kearifan lokal dan kekayaan seni budaya yang melingkupinya. Ini diharapkan dapat memperkenalkan secara luas kehidupan dan kebudayaan Indonesia melalui medium etik.

 

Koordinator Open Call Indonesiana.TV, Rina Damayanti, menjelaskan bahwa produksi film untuk LCPI, LAAI, dan LAI akan mencakup berbagai genre seperti fiksi, dokumenter, dan animasi. Film-film ini diharapkan dapat mempresentasikan salah satu atau lebih dari sepuluh Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) untuk melindungi, memanfaatkan, dan memajukan kebudayaan.

 

Tema LCPI secara khusus mengangkat adat istiadat, pengetahuan tradisi, dan perubahan iklim sesuai dengan karakteristik konten Indonesiana.TV. Sedangkan LAAI harus memuat tiga unsur utama: karakter berciri asli Indonesia, cara bercerita menarik sesuai minat anak-anak, dan pesan yang mendorong penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

 

“Film-film ini memiliki durasi 12 menit dan sangat diharapkan menggunakan bahasa ibu untuk mempertahankan keberagaman bahasa lokal yang perlu dilestarikan,” tambah Rina.

 

Detail lengkap mengenai program Open Call Layar Cerita Perempuan Indonesiana, Layar Animasi Anak Indonesiana, dan Layar Anak Indonesiana dapat diakses melalui laman dan kanal media sosial Indonesiana.TV. Program ini menjadi sarana untuk memupuk kreativitas dan semangat perfilman nasional di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *