Berita Kebudayaan

Muhammadiyah: Membangun Kebudayaan yang Kritis dan Inklusif

Dalam sebuah pengkajian yang diselenggarakan hari kedua bulan Ramadan 1445 H, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy, menggugah kesadaran Muhammadiyah akan pentingnya memaknai ulang kebudayaan. Di hadapan 500 peserta dari berbagai tingkatan dalam organisasi Muhammadiyah, Zakiyuddin menyoroti perluasan makna kebudayaan yang kadang membuat dakwah terasa kaku dan tidak mengakomodasi keberagaman budaya.

 

“Dakwah kultural harus dinamis, kreatif, dan purifikatif,” ujar Zakiyuddin, menggarisbawahi karakteristik utama yang harus dimiliki dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam konteks kebudayaan. Ia menekankan perlunya Muhammadiyah untuk menjadi agen perubahan sosial dan kebudayaan, tetapi tidak meninggalkan akar budaya yang telah ada.

 

Pembicaraan tentang dakwah kultural membuka ruang bagi Muhammadiyah untuk melakukan perbaikan dan transformasi dalam berpikir. “Perubahan sosial dan kebudayaan yang dinamis harus diikuti oleh Muhammadiyah dengan langkah-langkah kreatif dan inovatif menuju arah yang lebih baik,” imbuhnya.

 

Salah satu contoh konkret yang diberikan Zakiyuddin adalah keterkaitan antara arsitektur masjid Indonesia dengan budaya Hindu, yang seharusnya diakomodir dalam konteks kebudayaan Islam. Ini menunjukkan pentingnya Muhammadiyah dalam memandang keberagaman budaya sebagai sebuah potensi untuk memperkuat dakwah kultural.

 

Pengkajian Ramadan ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk lebih mendalami dan mengaktualisasikan dakwah kultural dalam upaya menjaga nilai-nilai Islam yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *